Senin, 05 April 2010

AYAH


Sedalam laut, seluas langit

cinta selalu tak bisa diukur

begitulah ayah mengurai waktu

meneteskan keringat dan rindunya

untukku

Ayah pergi sangat pagi

kadang sampai pagi lagi

tapi saat pulang

ia tak lupa menjinjing pelangi

lalu dengan sabar

menguraikan warnanya

satu persatu padaku

dengan mata berbinar

Cintamu bagaikan surga

Yang tak pernah kuntum indahnya

Kasihmu bagai permata nan berharga nilainya

Sayangmu bagai semesta

Yang memberi nikmat penghuninya

Namun balasku padamu hanya sepenggal cinta

ayah

Pernah ku lukiskan jasamu lewat pujian

Tapi maaf malah bualan yang ku ucap

Pernah ku buat istana untuk engkau diami

Tapi malah menjadikanmu seperti babu

Ayah….

Tapi, Engkau yang ku kira bangga

Malah meneteskan air mata

Tak tega melihat anaknya menderita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar