Sedalam laut, seluas langit
cinta selalu tak bisa diukur
begitulah ayah mengurai waktu
meneteskan keringat dan rindunya
untukku
Ayah pergi sangat pagi
kadang sampai pagi lagi
tapi saat pulang
ia tak lupa menjinjing pelangi
lalu dengan sabar
menguraikan warnanya
satu persatu padaku
dengan mata berbinar
Cintamu bagaikan surga
Yang tak pernah kuntum indahnya
Kasihmu bagai permata nan berharga nilainya
Sayangmu bagai semesta
Yang memberi nikmat penghuninya
Namun balasku padamu hanya sepenggal cinta
ayah
Pernah ku lukiskan jasamu lewat pujian
Tapi maaf malah bualan yang ku ucap
Pernah ku buat istana untuk engkau diami
Tapi malah menjadikanmu seperti babu
Ayah….
Tapi, Engkau yang ku kira bangga
Malah meneteskan air mata
Tak tega melihat anaknya menderita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar