Rabu, 31 Maret 2010

KAPAN KAU KEMBALI


kumencari hati yang pedih
tak akan kembali
dan ku mencari cinta yang hilang
kapankah kembali



kuterjaga hati terdiam
dan terus terdiam
aku menanti engkau kembali
dan terus menanti

aku terbang tinggi
tuk menggapai bintang dilangit
kapan kau kembali
kembali bersamaku lagi

kuharap dirimu menunggu
seperti cintamu yang dulu
untukku..

TERLALU INDAH


kita harus menerima bahwa
memang tak ada kisah yg bisa sempurna
seperti yg selalu diimpikan
dan mimpi tak selalu jadi kenyataan

ada awal dan ada akhirnya
yang mungkin tak dapat terurai semua
ada duka, ada bahagia
yang mungkin tak akan pernah terlupa

dan hatiku berkata


selamat jalan kekasih
manis yang berujung perih
kisah yg sungguh terlalu indah
kini semua berakhir sudah

selamat jalan kekasih
walau teramat sangat perih
namun aku pasti coba
untuk jalani ini semua

Selasa, 30 Maret 2010

BERSAMAMU


memandang wajahmu cerah
membuatku tersenyum senang, indah dunia
tentu saja saja kita pernah mengalami perbedaan kita lalui
tapi aku merasa
jatuh terlalu dalam, cinta mu..

ku tak akan berubah
ku tak ingin kau pergi selamanya


ku kan setia menjagamu
bersama dirimu dirimu.
sampai nanti akan selalu bersama dirimu

saat bersamamu kasih
ku merasa bahagia
dalam pelukmu
tapi aku merasa

jatuh terlalu dalam, cinta mu
seperti yang kau katakan kau akan selalu ada menjaga memeluk diriku dengan cintamu

Senin, 29 Maret 2010

PEMILIK HATI


Lihat ku disini Kau buat ku menangis Tak ingin menyerah Tapi tak menyerah Mencoba lupakan Tapi ku bertahan Kau terindah kan selalu terindah Aku bisa apa 'tuk memilikimu Kau terindah 'kan selalu terindah Harus bagaimana ku mengungkapkannya Kau pemilik hatiku Mungkin lewat mimpi
Ku bisa 'tuk memberi
Ku ingin bahagia
Tapi tak bahagia
Ku ingin dicinta
Tapi tak dicinta



Kau pemilik hatiku

Minggu, 28 Maret 2010

AYAH DAN AKU



Kamu tlah tinggal dalam hati
Dan takkan kulepas lagi
Tetaplah kau disini

Kamu bagaikanmentari
Datang dan turun ke bumi
Dan berdetak dalam nadi

Kamu orang pilihanku
Kamu cinta matiku
Hiduplah bersamaku

Kamu redakan ambisiku
Menepiskan khilafku
ayah syurga-ku
Bila kita bersama
Kitakan bahagia
Kan bacakan puisi
Itu hanya untukmu


Bila engkau pergi
Bawaku bersamaku
Karna kusetia padamu
Kumohon padamu
Jadikanlah aku anakmu
Aku takut kehilanganmu

KASIH SAYANG AYAH YANG SEMPURNA


Bagai bintang dilangit
Begitu cinta kita
Tak kan pernah binasa
Meski terhapus masa

Terima kasih tuhan
Kautelah sempurnakan
Telah engkau ciptakan
Dia untuk diriku

Aku bukan pujangga
Yang pandai rangkai kata
Yang ku punya hanyalah
Hanya segenggam cinta

Saat kita melaju diatas dua roda
Pegang erat pundakku saat meninggalkan ku

Lupakan aku bila itu terbaik untuk mu
Jangan pernah kau tanyakan cinta yang tersisa
Yang kau pun tak punya
Biarlah

Aku akan pergi
Tinggalkan semua
Cinta ini selamanya

Patahkanlah sayapku
Saat ku mencoba
Berpaling dari kasih dan sayangmu
Maka bunuhlah aku bila aku mencoba berpaling dan mencari penggantimu

Bagai bintang dilangit
Begitu cinta kita
Tak kan pernah ternoda
Meski terhapus masa

CAHAYA HATIKU


Lihat Cahaya Hatiku Yang Kan Slalu Menyinarimu ku Inginkan Kamu Ada Janganlah Engkau Berubah Tetaplah Sewajarnya Banyak Bintang Di Sana Yang Kan Slalu Menyinarimu Lihat aku Yg Membisu Menyayangimu Selalu Yakinkan Dirimu Slamanya Agar Kau Tetap Bangga Padaku Jangan Pernah Pergi Dariku Agar aku Bisa Menjaga Cintamu Tetaplah Apa Adanya

Sabtu, 27 Maret 2010

TANYA AIR MATA


Tanya air mataku saat
Saat aku menangis
Saat aku bermimpi
Saat aku bertanya

Sulit hidupku untuk
Sulit kau tuk mengerti
Sulit engkau pahami
Dengan apa kau
Harus mengerti
Kau harus pahami
Kau harus mengerti hidupku …

Masih mungkinkah kau mencoba
Kumohon trus mencoba
Tuk gali lebih dalam
Arti hidupku

Hingga Tuhan turunkan untuk
Sebuah cinta untukmu
Sebuah arti untukku

Dengan apa kau
Harus mengerti
Kau harus pahami
Kau harus mengerti
Kau harus pahami
Hidupku ….


Saat aku menangis …

Saat aku bermimpi …

Tanya air mataku saat
Saat aku menangis
Saat aku bermimpi
Bila kau pahami…

Tanya air mataku saat
Saat aku menangis
Saat aku bermimpi
Bila kau pahami…

SAMPAI MATI


pahamilah semua apa yang terjadi
saat hati tak lagi bisa berkata
mungkin bahagiamu bukan tuk diriku
biarkan semua ini jadi kenangan

lupakan semua cerita cinta
tinggalkan jiwaku yang terluka


sampai mati kisah ini kan ku jaga
hingga berakhir nafasku
putih cintaku untukmu
sampai mati dirimu kan dihatiku
tiada mungkin tuk terganti
walau semua telah berlalu

atas nama cinta kau yang kubanggakan
inilah hidup tak perlu disesali
biarkan semua tetaplah terjaga
sudahkah kenangan cinta yang terindah

lupakan semua cerita cinta
tinggalkan jiwaku yang terluka

Jumat, 26 Maret 2010

SENYUMAN DI WAKTU SENJA


Senja itu indah. Kalimat itulah yang terus terpatri dalam benakku. Aku sangat menyukai senja. Karena senja itu indah…

Di sinilah aku sekarang. Menatap dalam diam ke arah jendela yang seolah dihiasi oleh pemandangan senja. Tak mengerti apakah harus senang atau sedih menatap senja. Senang karena aku masih bisa melihat senja, yang berarti Tuhan masih mengizinkan aku untuk bernafas. Sedih bila akhirnya ini adalah senja terakhir yang harus kupandangi.

Aku terus berharap masih ada senja-senja yang terus menantiku di hari esok. Rutinitas inilah yang kerap kulakukan bila senja datang menggantikan sore. Ada rasa tak sabar saat aku menunggu saat datangnya senja. Tak sabar untuk segera bercerita.

Menceritakan semua yang ingin kuceritakan. Bukan berarti aku tak memiliki siapa-siapa. Aku masih mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku, meski rasa sayang mereka tertutupi oleh kesibukan mereka masing-masing. Aku tahu pekerjaan yang mereka lakoni merupakan salah satu pelarian dari kesedihan yang mereka rasakan selama ini.

Aku bisa merasakan aura duka itu. Mereka hanya menggunakan kesibukan mereka sebagai topeng, sebagai tempat bersembunyi dari semua yang harus mereka jalani. Padahal di balik semua itu hati mereka sangat rapuh. Bagaimana tidak rapuh bila suatu saat nanti mareka harus siap menerima kehilangan seorang anak. Dan statusku sebagai anak tunggal seolah ikut menggenapkan duka mereka. Karena apabila ‘saat itu’ telah datang, tak ada lagi yang menggantikanku sebagai anak mereka.

Aku masih termangu dalam diam. Ingatanku seolah menjemput memori masa laluku, saat di mana aku menganggap bahwa senja adalah hal biasa. Hanya sebuah fenomena alam. Saat di mana aku menghabiskan hariku bersama ayah dan bunda. Saat di mana senyuman dan tawa bukan sesuatu yang langka di antara kami. Saat di mana aku bisa melakukan semuanya sendiri. Ya, sendiri. Sampai ‘hari itu’ datang seolah meminta untuk kulalui..
Hari yang kelam. Hari yang senjanya tak begitu indah, karena ditutupi oleh mendung. Hari yang menurutku awal dari jalan menuju akhir hidupku.

Mendung di senja itu sudah menjelma menjadi hujan yang membasahi jalan yang kulalui bersama teman-temanku. Saat aku dan teman-temanku baru saja menghadiri reunian. Rasa rindu tak bisa terbendung saat bertemu teman lama. Tapi peristiwa naas itu seolah menjadi bagian dari kisah bahagiaku.
Bus yang aku tumpangi terbalik saat melalui jalan yang sangat licin. Separuh dari nyawa yang ikut di dalam bus, terbang dibawa angin yang berhembus di senja itu. Inikah akhir dari cerita rindu kami? Aku bingung, apakah harus bahagia atau menangis saat tahu aku menjadi salah seorang yang nyawanya terselamatkan.

Tentu saja dengan badan yang hampir remuk. Kepalaku tak sedikit mengeluarkan darah, yang mengalir bersama tetesan air hujan. Hanya itu yang kuingat. Yang kutahu semenjak saat itu, hidupku berubah. Kepala sering terasa pusing. Hidungku selalu mengeluarkan darah secara tiba-tiba. Dan aku semakin sering pingsan. Aku tak tau penyakit apa yang telah menyerangku.Yang jelas penyakit ini perlahan menghilangkan fungsi dari masing-masing organ tubuhku.

Matahari sudah benar-banar tenggelam di ufuk barat, menandakan senja sudah berakhir. Lamunanku terhenti saat mendengar suara bunda di balik pintu kamarku. Tanpa sadar tanganku menyapu pipiku yang basah. Ternyata aku menangis. Aku memang tak pernah kuasa membendung air mataku bila mengingat peristiwa itu.

“Masuk, Bun…” ucapku lirih. Suaraku bergetar.
Bunda tersenyum lembut kearahku, “Syafa, ayo kita makan malam. Ayah sudah menunggu di ruang makan.”

Aku hanya mengangguk. Bunda berjalan menujuku. Kemudian ia mulai mendorong kursi rodaku. Ya, inilah aku, Syafa Syaqila. Dengan usia 16 tahun 3 bulan lalu kakiku mendadak lumpuh. Aku mengira ini bagian dari penyakit aneh yang menyerangku. Beginilah aku sekarang. Hidupku bertumpu pada kursi roda yang sekarang kutumpangi. Aku takut penyakit ini terus menggerogotiku. Hingga akhirnya merenggut nyawaku.

Ternyata ayah memang sudah menungguku di meja makan. Lengkap dengan makan malam yang sudah terhidang di atasnya. Ayah menyambutku dengan senyuman yang sama lembutnya dengan bunda.
“Apa kabar kamu hari ini, sayang?” Tanya ayah sambil mengusap kepalaku, seolah-olah aku anak yang berusia 5 tahun.
“Baik Yah…” jawabku ragu. Ragu karena dengan kenyataan ini apakah hidupku bisa digolongkan baik.

Ayah hanya tersenyum getir mendengar jawabanku. Selanjutnya kami makan malam ditemani diam. Sampai akhirnya Ayah membuka topik pembicaraan yang mengingatkan aku bahwa lusa adalah hari ulang tahunku. Ayah berjanji akan merayakan ulang tahunku yang ke-17 tersebut.
Senang? Tentu saja aku senang. Tapi aku tidak mungkin lompat-lompat untukmenunjukkan rasa senangku. Aku hanya bisa tersenyum. Saat Ayah dengan antusiasnya menceritakan rencana-rencananya untuk ulang tahunku, tiba-tiba saja, sendok dan garpuku terhempas. Dan tanpa bisa kukontrol, kedua tanganku tiba-tiba terjatuh ke sisi kursi roda. Aku bingung dengan apa yang terjadi padaku. Begitupun dengan tatapan ayah dan bunda yang di tujukan padaku.
“Bun…” suaraku mulai bergetar hebat, mataku mulai memanas. Aku menangis.
Tanganku tiba-tiba tidak bisa kugerakkan. Aku melihat ayah dan bunda mulai cemas.
Kemudian gelap, aku pingsan.
***
Langit-langit kamar putih yang pertama kali kulihat saat aku tersadar dari pingsanku yang ntah sudah berapa lama. Bau obat yang menusuk hidung meyakinkanku bahwa aku berada di rumah sakit. Ayah, Bunda, orang pertama yang kulihat disekelilingku. Mata bunda terlihat sembab, menandakan ia baru saja menangis. Aku hanya tersenyum kepada mereka, seolah-olah meyakinkan bahwa aku tidak apa-apa.
Tapi rasa sakit itu tak bisa kupungkiri. Sakit yang bergejolak di dada ini seolah mendobrak senyumku menjadi sebuah air mata yang kini mengalir di pipiku.

Tapi dengan lirih aku tetap berkata, “Bunda? Syafa pasti sembuh kan, Bunda?”

Bunda yang mendengarkannya hanya mengangguk. Tapi anggukan menyiratkan ketidakpastian dengan apa yang ia rasakan. “Iya, saying. Kamu pasti sembuh kok. Makanya kamu harus kuat ya…” Ayah angkat bicara. Ada kelegaan yang luar biasa yang kurasakan, yang bisa dapat mengurangi rasa sakit di dadaku ini. Walau hanya sedikit.

“Ayah, nanti kalau Syafa udah sembuh, Syafa mau lihat senja ya, Yah?” Kini giliran ayah yang hanya bisa mengangguk mendengar pertanyaanku. “Ayah., Bunda, Syafa mau tidur dulu ya, Syafa ngantuk..” kataku dengan nada yang kubuat seceria mungkin. Bunda segera menyelimutiku dan mencium keningku.

Rasa sakit di dadaku memaksaku untuk bangun dari tidurku. Keringat dingin mulai mengalir dari seluruh tubuhku. Ya Tuhan, apa lagi yang kurasakan ini? Kenapa dadaku terasa begitu sakit? Apa kau akan membunuhku dengan menghentikan detak jantungku? Ayah dan bunda yang melihatku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, mendekati tempat tidurku, “kamu kenapa sayang?” tanya ayah khawatir.

Bunda mengusap-ngusap kepalaku, sambil menenangkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Aku hanya menggeleng. Badanku yang lemas menjadikan suaraku menjadi sangat pelan. “Peluk Syafa, Bunda! Syafa kedinginan.” Bunda segera memelukku dengan erat. Aku bisa merasakan adanya rasa takut kehilangan di sana. “Bunda, Syafa boleh minta sesuatu, Bunda?”
“Boleh, sayang.“
“Syafa mau lihat senja, Bunda…”
“Sekarang?”

Aku mengangguk. Bunda mengalihkan pandangannya ke ayah. Ayah menatap jam di pergelangan tangannya, kemudian mengangguk. Lima belas menit kemudian aku sudah berada di pantai dekat rumah sakit. Aku tersenyum saat sampai di sana..

Senja yang begitu indah. Rasanya sudah lama sekali aku tak melihat senja. Ayah menurukanku dari gendongannya, ke kursi roda yang bunda dorong. Kami terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya aku berkata,

“Ayah…bunda…maafin Syafa ya. Karena selama ini Syafa ga’ bisa jadi anak yang ayah dan bunda banggain. Cuma bisa nyusahin kalian.. Tapi karena itu juga Syafa harus bilang makasih. Karena kalian udah jadi orang tua yang nggak tergantikan. Bunda yang nggak pernah ngeluh ngerawat Syafa. Ayah yang selalu bisa buat Syafa tersenyum. Syafa senang waktu dengar kalian mau ngerayain ulang tahun Syafa. Seharusnya hari ini kita ada di rumah nyanyiin lagu ulang tahun buat Syafa. Tapi Syafa nggak bisa buat apa-apa kalau semuanya jadi kayak gini. Maafin Syafa..”

Bunda memelukku seperti di rumah sakit. Ayah yang sekarang ikut memelukku berkata, ”Nggak sayang…kamu nggak ngerepotin kok. Kamu udah buat kami bangga dengan jadi anak kami.”

“Makasih, Yah..” Andai saja tanganku ini bisa kugerakkan, pasti aku akan memeluk mereka lebih erat lagi. Tapi sayang, rasa sakit di dadaku tak juga berkurang, namun aku tak ingin menangis. Tak ingin membuat mereka menangis. “Bunda jangan nangis…”
“Bunda nggak nangis sayang. Bunda senang karena hari ini umur kamu udah 17 tahun. Berarti anak bunda udah besar”

Aku ikut tersenyum, “Bunda….Ayah…Syafa capek. Syafa tidur dulu ya…”
Ayah dan bunda melepas pelukannya. Kemudian menyelimuti dengan selimut yang mereka bawa. Sebenarnya ada rasa takut saat aku ingin menutup mata ini. Takut aku tidak akan terbangun lagi nantinya. Tapi aku yakin, Tuhan sudah menggariskan hidup manusia sejak lahir. Aku harus terima jika hidupku harus berakhir di sini..Aku menutup mataku dengan tenang. “Selamat tinggal Ayah, Bunda. Selamat tinggal dunia..Selamat tinggal senja….”***

SAMPAI AKHIR HAYATKU


ku hidup di dunia hanya sekali
lebih tak berarti tanpa kau disisiku
sampai ku mati aku ingin bersama denganmu

izinkanlah ku cari kesungguhan hati
tuk buktikan kamu ada di hidupku
bisikkanlah dari hati kau ada disini
temani hidupku tak berujung waktu

bila kau tercipta memang untukku
tunjukkanlah bahwa aku lelaki terakhirmu
sampai ku mati ku serahkan semua
sampai ku mati aku ingin bersama denganmu

dan kau menangis terus menangis
menghampiriku kau peluk aku

Jumat, 19 Maret 2010


Aku harus bisa menghapus kisah yang telah lalu..
Aku harus bisa menghapus bayangmu..
Aku harus bisa... lupakan semua....
Aku harus bisa.... tentukan arah langkah....
Aku harus bisa selamatkan hatiku yang telah menjadi puing-puing..
Aku harus bisa.. hadapi semua..
Aku harus bisa lewati semua...
Aku harus bisa iklas....
Aku harus bisa hidup...
aku harus bisa....
aku harus bisa membuka pintu hatiku...
Aku harus bisa hadapi masa depanku..
Aku harus bisa..... bangun semangatku...

Karena aku baru tersadar akan banyaknya orang yang mengasihiku
Terima kasih semua aku akan berusaha

Tuhan.. tolong aku.. tolong aku untuk bisa.... dan harus bisa....

dengan sisa-sisa kekuatan yang aku punya.. Tuhan bantu aku untuk bisa..

SEMANGAT BARU DARI AYAH


hello teman semua
ayo kita sambut, hari baru telah tiba
apa yang kurasakan, ku ingin engkau tahu
dan berbagi bersama

buka kita buka hari yang baru
sebagai semangat langkah ke depan
jadi pribadi baru
buka kita buka jalan yang baru
tebarkan senyum wajah gembira
damai suasana baru
bukalah bukalah semangat baru
bukalah bukalah semangat baru
bukalah bukalah semangat baru

coba diam walau hanya tuk sejenak,
dengarkan kata dari s’gala yang ku ucap,
ku jelang pagi ini nikmati damai di hati,
dalam waktu penuh arti karena aku dicintai,
ku ingat kemarin suasana tak bersemangat,
namun kini ku jalani dan semua rasanya tepat,
bersama kita coba wujudkan harapan,
membuka jalan dalam ‘gapai setiap tujuan.

mentari bersinar selalu
ini yang ku minta penuh semangat tertawa
bersamamu teman semua
karena ini saatnya kita nyanyi bersama

buka kita buka hari yang baru
sebagai semangat langkah ke depan
jadi pribadi baru
buka kita buka jalan yang baru
tebarkan senyum wajah gembira
damai suasana baru

dengarkan hatimu, pastikan pilihanmu
esok mentari kan datang, bawa sejuta harapan
kita jumpa di sana, berbagi bersama
dan kita tahu, pelangi yang satukan kita

SENYUMAN MATAHARI


Matahari yg sedang terbit.


Usia muda

Masih baru dan membangkitkan semangat

Menyinari dunia ini

Dengan sinar merah mudanya yg lembut

Hanya memperhatikan warna-warna yg di kenal.

Menari pada air yg tenang

Aku kembali ke perasaan

Yang tak pernah sesungguhnya kutinggalkan

Hanya seperti matahari yg tetap

Ia terbit lagi

Luasnya lengan-lengan mencakup sebuah hari yg baru.

Hanya tempat dimana mimpi itu mungkin

Di dalam ingatanku sendiri.

SENYUMANMU AYAH



kulihat senyum indah diwajahmu
menenangkan jiwa yang sedang resa
mungkin ada sesuatu yang beda
namun ku tak tahu apakah gerangan
melihat senyummu mendamaikan jiwaku
ingin rasanya tetap memandanginya
hati ini bertanya
akankah senyum itu untukku
tak hanya senyum
namun matamu pun begitu indah
menampakkan keanggunan
begitu indah engkau tercipta
namun ku selalu berharap
bisa tetap melihatmu tersenyum
karena ku bahagia melihatmu tersenyum
dan tersenyumlah dengan indah untukku

maafkan aku


Mungkin hanya khayal bagiku
untuk hidup bahagia didunia ini.
Meskipun kuberdoa seribu tahun pada tuhan.

Ini bukan tangis pertama dalam hidupku.
Ini bukanlah sakit yg pertama...
Tapi, ini sudah meaura dalam jalan hidupku.

Namun...
Sekarang semua akan berakhir.
berakhir tanpa kau akhiri, berakhir tanpa kau minta.
Biarkan aku tersudut menunggu mati disini.
Aku hanya berharap penderitaan ini berakhir.
Dan ada sebuah cahaya bahagia untukku.

Aku hanya ingin mendengar kata engkau memaafkanku.
Meskipun aku tak pernah tahu apa salahku.
Aku hanya takut, aku tak sempat ucapkan maaf padamu.
Sebab bintang sepi sudah tidak bisa menahan penyakit ini.

Maafkan aku meninggalkan orang yg mencintaiku dan org yg kukasihi
Tapi, aku ingin melihat orang yg aku cinta dan kukasihi bahagia.
Tanpa hadir aku yg mereka bilang selalu menganggu mereka.
Aku sayang kalian, aku cinta dunia..

Walau dihujung hidupku nanti aku ditakdirkan bahagia..
Maka biar kukorbankan itu untuk orang yg ingin kubahagiakan.
Untuk orang yg tak pernah mendapatkan bahagia dari aku.

Lihatlah ini...
Senyum terakhir dari hatiku..
Terakhir kali engkau dapat melihatnya.
Senyum terakhir dari akhir hidupku.
Kutitipkan untuk kau yg sangat kusayang.
Setelah ini kau takkan melihatnya lagi.
Tapi, aku harap aku bisa bahagia ditempat aku yg baru.
Agar aku tak menyesali derita hidupku didunia ini..

Lupakan aku..
Jalani hidup kalian dg tenang.
Anggap aku tak pernah ada dalam kehidupan kalian.
Lupakan aku..
Tapi, jangan lupakan bintang yg kutatap.
Sebagai temanku, setiap malam dalam kesunyian.
Ukirlah aku sebagai bintang itu.
Bintang terakhir yg ada dilangit

kalian tak perlu menangis.
Anggap saja aku pergi dengan senyuman manis.

Kisahku akan terhenti sampai disini.
Takkan ada lagi puisi, takkan ada lagi cerita.
Bahkan kenangan takkan jadi sejarah..

Sudahlah...
Selamat tinggal untuk cahaya bintang tersayang..